Sunday, January 11, 2015

The Clues (Part 1)

Entah hari apa tanggal berapa di tahun 2014. Tak sengaja bertemu teman lama di sebuah kantin masjid ternama di kota kembang. Setelah memastikan bahwa sosok yang sedang berdiri berbincang dengan dua pria itu adalah orang yang benar ku kenal, aku menyapanya.
"Hawa?" ujarnya sesaat setelah memperhatikanku dengan seksama.

Kami saling takjub. Berbilang tahun tak bertemu setelah lulus sekolah menengah atas cukup membuat kami hampir tidak mengenal satu sama lain. Setelah basa-basi sebentar, aku pun pamit mengambil makanan di jalur terpisah. Beres membayar seharga tertera di layar kalkulator, aku melangkah ke meja kosong terdekat. Meja putih yang letaknya di tengah, dekat dengan akses keluar masuk kantin.

Sedang menyantap makanan, aku dikagetkan dengan dia yang tiba-tiba duduk di depanku. Sempat gelagapan hingga akhirnya aku bersikap normal, oh, bukan, berpura-pura normal.

Oh man... There were a man in front of me!


Kami berbincang. Dengan bahasa daerah. Lumayan membuatku gagu dan ragu. Bilangan tahun tinggal sendirian di tanah pasundan dan hanya sesekali bertemu orang-orang sedaerah, khususnya perempuan, ayuk-ayuk sedaerah, aku harus bicara apa? Bersikap bagaimana? Program otomatis pun menjalankan Hawa yang tertawa-tawa tak tahu kenapa. Dan kemudian tanyanya, "Kamu sedang apa di sini?"

Mungkin jika ini drama, akan ada sekian detik potongan gambar yang menampilkan sendok di tangan mengambang di udara.

"Ada acara... di atas."
"SPN?" tebaknya tepat, sukses membuatku menelan ludah.
"Emm!"
"Huwah! Udah siap donk nih?"
"Masih belajar..."
"Justru itu. Kalau nggak siap, nggak akan tergerak ke sini kan."
"...."
"Eh, Abang aku yang tadi udah S2 loh kalo minat".

Aku tertawa. Getir. Dan kemudian tak ingat apa-apa lagi.
Sekolah Pra Nikah Salman ITB. Program yang sudah maju-mundur ingin ku ikuti sejak semester lima. Ya, hendak maju tapi selalu mundur hingga akhirnya kelelahan pikiran dan keapatisan membawaku memberanikan diri, melangkahkan kaki keluar dari kamar, naik turun angkot tiga kali dengan jarak perjalanan hampir satu jam tanpa macet ke satu tempat yang insya Allah penuh rahmat, tak sengaja bertemu dua orang akhwat kenalan yang entah bagaimana juga akan melangkah ke sekretariat yang sama.

Di titik itu, aku tahu, ada yang salah padaku.
Apatis sudah aku tentang pernikahan.

No comments:

Post a Comment