Sunday, May 1, 2016

Ibu (1)

Ibu.
Ku memanggilmu Ibu.
Aku memanggilmu, Bu.
Aku menyatu di tubuhmu sembilan bulan kan, Bu?
Menyusu darimu, makan lewat tanganmu.
Kata pertamaku bisa jadi adalah dirimu kan, Bu?
Yang paling sering ku peluk dirimu kan, Bu?

Ibu.
Ku memanggilmu Ibu.
Aku menyatu di tubuhmu.

Saturday, September 5, 2015

Yang Menarik Matanya

Ufff...!
Aku.
Benci.
Laki-laki.

Kalimat itu nampaknya terukir jelas di lobus otakku.

Tuhan, kenapa laki-laki itu kekanak-kanakan sekali?
Tuhan, kenapa mereka tidak bisa dipercaya? Kenapa tidak bisa diandalkan? Mereka, laki-laki, pemimpin kan?
Tuhan...

Wednesday, April 29, 2015

Dia Termangu

Dia termangu.
Mengingat-ingat masa kecilnya.
Masa-masa bahagianya.
Berlarian. Dengan teman.
Tertawa. Dengan teman.
Menjelajah. Bertualang. Dengan teman.

Tunggu!
Dengan teman?

Dia termangu.
Menggali-gali tumpukan memori
Terdiam. Mematung. Menggigil.

Ada gadis kecil yang meletakkan pisau di nadinya,

Thursday, April 23, 2015

Apatisnya...

Ada yang masih diurusi orang tua bahkan setelah menikah. Membersihkan pup anak, memandikan, memakaikan baju dan membuatkan susu, tinggal teriak panggil, "Maaaa...", sementara dirinya asyik menekan sederet tombol huruf dan memandang layar ponselnya.

Ada yang berbahagia hidup bersama pasangannya, melupakan orang tua yang bersusah-payah menghidupi diri sendiri dan adik-adiknya. Yang penting terlepas dari jerat kelam kisah keluarganya. Yang penting dia bahagia, tak peduli nestapa di pihak sana.

Ada yang malam-malamnya riuh, mempermasalahkan bayi dalam gendongan yang konon sakit dan menangis menggila. Bayi dari istri ke dua suaminya. Diantarkan sang mertua yang merasa lelah dan marah sang bayi tak dihiraukan suaminya. Menimbulkan gaduh di rumah orang tua tempatnya berteduh.

Wednesday, January 14, 2015

The Clues (Part 3)

Bintang gadis yang ceria, cerdas, cantik dan berpembawaan ramah. Meski katanya dia punya standar yang tinggi, dia masih masuk kategori pandai bergaul menurutku. Mungkin karena kami sudah menghabiskan waktu enam tahun bersama dan bersaing di sekolah dasar. Mungkin juga karena aku tak bisa semudah itu tersenyum di depan orang-orang atau tertawa riang bermain bersama adik-adik kecil. Ingatan itu masih sangat jelas. Kami bertemu kembali di perhentian bus setelah tak bertemu hampir tiga tahun lamanya. Pertemuan ini membuatku buncah. Dia semakin cantik dan modis. Celana panjang dan atasan pas badan membalut tubuhnya, menunjukkan perut rata dan lengan langsingnya. Selebihnya, dia masih sama ceria, cerdas dan ramahnya. Pembicaraan paling seru mengenai persiapan kami menghadapi ujian akhir nasional sekolah menengah atas, tiga bulan mendatang.

Ujian akhir berjalan lancar. Waktu menunggu pengumuman kelulusan ku habiskan di rumah, tiga jam lamanya dari terminal kota. Entah bagaimana, suatu sore aku mengingatnya. Mengingat dalam artian seluruh pikiran dan perasaan terfokus padanya. Maka bergeraklah aku mencari kabar tentangnya. Tidak ke rumahnya, sekali lagi entah kenapa, aku merasa 'tidak' untuk ke rumahnya. Rumah sahabat lama yang juga menghabiskan enam tahun kami yang berharga jadi satu-satunya pilihan.

"Loh, dia kan udah nikah", sebut saja Indah namanya, mengabariku.

Yang membuat aku bagai tersengat listrik adalah kata-kata selanjutnya. Pernikahannya cuma akad saja, sekitar seminggu menjelang tanggal UAN kami. Tak lama dari akadnya, dia melahirkan. Melahirkan!

Monday, January 12, 2015

The Clues (Part 2)

Konon kisahnya tentang seorang ibu yang menewaskan tiga anaknya. Bukan karena tidak cinta, tetapi sangat cinta. Dia tak ingin anaknya tumbuh dan kelak menjadi seperti dirinya. Dari dirinya yang begini, kelak anaknya akan tumbuh begini. Anak dari anaknya kelak akan punya anak begini. Anak dari anaknya atau cucunya ini akan punya anak begini. Cicitnya akan punya anak begini. Cucu cicitnya akan begini sampai nanti akan ada banyak anak yang begini. Mengapa bisa demikian? Karena buah konon jatuh tak jauh dari pohonnya.

Aku tertegun lama. Membaca kisah yang entah nyata atau khayalan belaka ini sungguh membuatku tertegun lama. Kisahnya bermula tentang dirinya yang tumbuh penuh di bawah aturan sang ibu. Sang ibu adalah seorang berpendidikan tinggi, cerdas dan bolehlah dibilang teratas di bidangnya. Hal demikian membuat ibunya sedemikian tegas bahwa anaknya harus bisa atau bahkan lebih baik dari dirinya. Dia berusaha namun ibunya sering tampak tak puas. Dia tertekan. Waktu pun berlalu, kini saatnya dialah seorang ibu. Pengalaman masa lalunya membuatnya bertekad tidak akan melakukan hal-hal yang tidak disetujuinya dari sosok sang ibu. Tapi tidak ada jalan tanpa rintangan. Lambat laun perilakunya semakin mirip ibunya. Dia sadar dan berusaha meredamnya. Tapi sering kali ia kalah. Apa yang dia tidak sukai, apa yang terkenang di alam bawah sadarnya, justru itulah yang sering dilakukan. Ketakutan dan gelap mata, dia memutuskan mengakhiri lingkaran setan ini dengan mengakhiri hidup anak-anaknya, demi cinta. Sangat cinta.

Sunday, January 11, 2015

The Clues (Part 1)

Entah hari apa tanggal berapa di tahun 2014. Tak sengaja bertemu teman lama di sebuah kantin masjid ternama di kota kembang. Setelah memastikan bahwa sosok yang sedang berdiri berbincang dengan dua pria itu adalah orang yang benar ku kenal, aku menyapanya.
"Hawa?" ujarnya sesaat setelah memperhatikanku dengan seksama.

Kami saling takjub. Berbilang tahun tak bertemu setelah lulus sekolah menengah atas cukup membuat kami hampir tidak mengenal satu sama lain. Setelah basa-basi sebentar, aku pun pamit mengambil makanan di jalur terpisah. Beres membayar seharga tertera di layar kalkulator, aku melangkah ke meja kosong terdekat. Meja putih yang letaknya di tengah, dekat dengan akses keluar masuk kantin.

Sedang menyantap makanan, aku dikagetkan dengan dia yang tiba-tiba duduk di depanku. Sempat gelagapan hingga akhirnya aku bersikap normal, oh, bukan, berpura-pura normal.

Oh man... There were a man in front of me!

Saturday, January 10, 2015

Trauma

Apa resolusi 2015-mu?
Sembuh dari trauma.

Trauma?
Iya, trauma.

Trauma apa?