Bintang gadis yang ceria, cerdas, cantik dan berpembawaan ramah. Meski katanya dia punya standar yang tinggi, dia masih masuk kategori pandai bergaul menurutku. Mungkin karena kami sudah menghabiskan waktu enam tahun bersama dan bersaing di sekolah dasar. Mungkin juga karena aku tak bisa semudah itu tersenyum di depan orang-orang atau tertawa riang bermain bersama adik-adik kecil. Ingatan itu masih sangat jelas. Kami bertemu kembali di perhentian bus setelah tak bertemu hampir tiga tahun lamanya. Pertemuan ini membuatku buncah. Dia semakin cantik dan modis. Celana panjang dan atasan pas badan membalut tubuhnya, menunjukkan perut rata dan lengan langsingnya. Selebihnya, dia masih sama ceria, cerdas dan ramahnya. Pembicaraan paling seru mengenai persiapan kami menghadapi ujian akhir nasional sekolah menengah atas, tiga bulan mendatang.
Ujian akhir berjalan lancar. Waktu menunggu pengumuman kelulusan ku habiskan di rumah, tiga jam lamanya dari terminal kota. Entah bagaimana, suatu sore aku mengingatnya. Mengingat dalam artian seluruh pikiran dan perasaan terfokus padanya. Maka bergeraklah aku mencari kabar tentangnya. Tidak ke rumahnya, sekali lagi entah kenapa, aku merasa 'tidak' untuk ke rumahnya. Rumah sahabat lama yang juga menghabiskan enam tahun kami yang berharga jadi satu-satunya pilihan.
"Loh, dia kan udah nikah", sebut saja Indah namanya, mengabariku.
Yang membuat aku bagai tersengat listrik adalah kata-kata selanjutnya. Pernikahannya cuma akad saja, sekitar seminggu menjelang tanggal UAN kami. Tak lama dari akadnya, dia melahirkan. Melahirkan!
Aku tak percaya dan sungguh gundah. Hei, kami bertemu empat bulan lalu dan dia terlihat baik-baik saja! Tidak ada perut yang membuncit atau apa. Tapi semua orang berkata hal yang persis demikian.
Ketika kemudian aku memutuskan datang ke rumahnya, berharap bertemu dan melihat matanya, aku cuma melihat kesedihan mendalam kedua orang tuanya. Dia tak di rumah. Ayahnya terpekur terdiam, tentu saja, beliau Ayah yang selalu memperhatikan kebutuhan dan keinginan anaknya, ibunya bersungguh-sungguh memintaku menghubunginya, mensugesti, memotivasinya tak menyerah dengan keadaan dan melanjutkan kuliah. Aku cuma bisa terdiam mengawang-ngawang. Membaca semua bentuk khayal di udara.
***
Mawar namanya. Suara riang dan binar matanya adalah yang paling aku ingat ketika dia menyapaku untuk pertama kalinya di persimpangan jalan Gedung Sasana Krida.
"Tahu gedung X, nggak?"
Aku menggeleng, dia tampak sedikit pasrah.
"Tapi aku juga mau ke sana."
Dia tertawa, dan itulah yang selalu ku ingat tentang teman pertama di tanah juang Pasundan.
Dia cantik, cerdas, ramah dan riang pembawaannya. Kombinasi ini membuatnya jadi pusat perhatian. Sungguh dapat ku lihat tatapan-tatapan mata lelaki ke arahnya. Ketika ku coba membicarakannya, dia tertawa dan memintaku tenang.
"Aku sudah punya pacar."
Aku terdiam.
Wah, tampaknya aku seorang gadis sewot yang tak suka temannya jadi pusat perhatian ya. Tidak, bukan begitu. Aku cuma merasa tidak nyaman. Ingatan kemarin masih sangat segar, bukan? Tapi tentu insekuritasku tidak ada hubungan dengannya. Jadi aku tersenyum dan mencoba mempercayainya.
Semakin hari kami semakin dekat dan semakin hari pula dia banyak bercerita tentang pacarnya. Aku tak nyaman, tentu, tapi aku mempercayainya. Melihat dia nyaman bercerita dengan riang membuatku ingin mempercayainya. Sampai hari yang paling ku sesali itu terjadi...
Pacarnya datang dan aku bertemu dengannya. Aku menunduk setunduk-tunduknya. Bukan gadhul bashar, tapi takut. Sekilas saja melihat sosoknya, aku merasa ada 'yang salah'. Sesuatu yang tidak 'ramah' padahal dia bersikap biasa saja. Kami mengobrol bertiga dengan aku yang sekalipun tidak menatap ke arah pacarnya.
Hari itu Rabu, aku ingat sekali, hari aku biasanya dan seharusnya menghadiri majelis di masjid kampus. Mengingat Mawar pernah menyatakan ingin datang, aku mampir ke kamar kosnya. Pintu diketuk tapi tak ada jawaban. Mungkin dia tidur. Ku ketuk lagi. Sepi. Ku ketuk lagi, lebih keras seraya memanggilnya. Aku 'rasanya tahu' dia ada di dalam sana.
"Mawar... Katanya mau ikut ke majelis..."
"Iya... Bentar, Wa..." ada jawaban akhirnya.
Pintu kamarnya tak langsung terbuka. Ketika akhirnya terbuka, aku bernafas lega.
"Tidur?" tanyaku melihatnya sangat belum siap untuk berangkat. Aku masuk ke kamarnya, berbincang hingga dia bisa bersiap, cukup lama sebenarnya. Di tengah perbincangan, barang jatuh berkelotakan dari kamar mandi. Dari bunyinya, aku tahu, there were something wrong.
"Mas... keluar aja..." katanya.
Mas?! Keluar?!
"Ada.. orang di sini?" tanyaku. Jantungku berdetak kencang. Aku tahu sejak awal 'udaranya' terasa aneh tapi aku tidak tahu kalau...
"Iya, ada si Mas", jawabnya bersamaan dengan munculnya sosok laki-laki dari kamar mandi.
Aku gelagapan.
"Oh, yaudah atuh ya, kamunya kayaknya masih ngantuk gitu. Aku mau ke Melati dulu atuh, ya, udah janji juga sama dia. Biar ga telat ke majelisnya".
Aku bergegas. Pergi. Aku tahu tidak seharusnya meninggalkan mereka berdua. Aku tahu ada yang salah. Tapi aku takut! Teramat sangat takut sampai rasanya satu-satunya yang harus diselamatkan adalah jiwaku. Keluar dari kamarnya, aku berlari. Berlari secepat yang aku bisa.
Aku tahu ada yang salah. Tapi aku tahu aku pun bisa saja salah, jadi ku biarkan perasaan, penasaran dan pikiranku tak menemukan jawabnya. Aku tak bertanya apa-apa. Aku (harus) percaya padanya. Dan semua berjalan seperti biasa. Kami masih dekat berteman berdua. Ke kampus berdua, kemana-mana berdua. Hingga masanya tiba, satu bulan kemudian, dia menghilang. Mawar menghilang. Tak datang di sebagian UTS padahal ini semester pertama. Tak bisa dihubungi. Tak ada di kosan. Ibu kosnya yang juga penasaran akhirnya membuka pintu kamarnya dengan kunci cadangan ketika aku datang. Tak ada apa-apa di sana. Kosong.
Hari-hari berlalu, Hingga dering telepon seluler siang hari itu menceloskan kembali hatiku.
"Hawa, tadi ada Bapak-Bapak yang datang ke kampus, ke TU, nyariin Mawar. Bapaknya Mawar, Wa. Teman-teman bilang Mawar dekat sama kamu jadi Bapaknya ingin ketemu kamu", seorang teman mengabariku.
Aku termangu. Berpikir.
"Rasanya... aku belum siap ketemu dan bicara sekarang," aku jujur, "Maaf, bisakah sampaikan aku bisa bertemu besok? Pagi?"
"Baik, baik. Aku cariin Bapaknya dulu ya, Wa. Besok, ya, Wa."
Percakapan berakhir. Aku duduk lemas, menarik nafas panjang-panjang. Demi apapun, saat itu aku tak siap menghadapi entah itu tangis atau amukan marah atau pandangan mata orang tua yang terluka.
Semakin hari kami semakin dekat dan semakin hari pula dia banyak bercerita tentang pacarnya. Aku tak nyaman, tentu, tapi aku mempercayainya. Melihat dia nyaman bercerita dengan riang membuatku ingin mempercayainya. Sampai hari yang paling ku sesali itu terjadi...
Pacarnya datang dan aku bertemu dengannya. Aku menunduk setunduk-tunduknya. Bukan gadhul bashar, tapi takut. Sekilas saja melihat sosoknya, aku merasa ada 'yang salah'. Sesuatu yang tidak 'ramah' padahal dia bersikap biasa saja. Kami mengobrol bertiga dengan aku yang sekalipun tidak menatap ke arah pacarnya.
Hari itu Rabu, aku ingat sekali, hari aku biasanya dan seharusnya menghadiri majelis di masjid kampus. Mengingat Mawar pernah menyatakan ingin datang, aku mampir ke kamar kosnya. Pintu diketuk tapi tak ada jawaban. Mungkin dia tidur. Ku ketuk lagi. Sepi. Ku ketuk lagi, lebih keras seraya memanggilnya. Aku 'rasanya tahu' dia ada di dalam sana.
"Mawar... Katanya mau ikut ke majelis..."
"Iya... Bentar, Wa..." ada jawaban akhirnya.
Pintu kamarnya tak langsung terbuka. Ketika akhirnya terbuka, aku bernafas lega.
"Tidur?" tanyaku melihatnya sangat belum siap untuk berangkat. Aku masuk ke kamarnya, berbincang hingga dia bisa bersiap, cukup lama sebenarnya. Di tengah perbincangan, barang jatuh berkelotakan dari kamar mandi. Dari bunyinya, aku tahu, there were something wrong.
"Mas... keluar aja..." katanya.
Mas?! Keluar?!
"Ada.. orang di sini?" tanyaku. Jantungku berdetak kencang. Aku tahu sejak awal 'udaranya' terasa aneh tapi aku tidak tahu kalau...
"Iya, ada si Mas", jawabnya bersamaan dengan munculnya sosok laki-laki dari kamar mandi.
Aku gelagapan.
"Oh, yaudah atuh ya, kamunya kayaknya masih ngantuk gitu. Aku mau ke Melati dulu atuh, ya, udah janji juga sama dia. Biar ga telat ke majelisnya".
Aku bergegas. Pergi. Aku tahu tidak seharusnya meninggalkan mereka berdua. Aku tahu ada yang salah. Tapi aku takut! Teramat sangat takut sampai rasanya satu-satunya yang harus diselamatkan adalah jiwaku. Keluar dari kamarnya, aku berlari. Berlari secepat yang aku bisa.
Aku tahu ada yang salah. Tapi aku tahu aku pun bisa saja salah, jadi ku biarkan perasaan, penasaran dan pikiranku tak menemukan jawabnya. Aku tak bertanya apa-apa. Aku (harus) percaya padanya. Dan semua berjalan seperti biasa. Kami masih dekat berteman berdua. Ke kampus berdua, kemana-mana berdua. Hingga masanya tiba, satu bulan kemudian, dia menghilang. Mawar menghilang. Tak datang di sebagian UTS padahal ini semester pertama. Tak bisa dihubungi. Tak ada di kosan. Ibu kosnya yang juga penasaran akhirnya membuka pintu kamarnya dengan kunci cadangan ketika aku datang. Tak ada apa-apa di sana. Kosong.
Hari-hari berlalu, Hingga dering telepon seluler siang hari itu menceloskan kembali hatiku.
"Hawa, tadi ada Bapak-Bapak yang datang ke kampus, ke TU, nyariin Mawar. Bapaknya Mawar, Wa. Teman-teman bilang Mawar dekat sama kamu jadi Bapaknya ingin ketemu kamu", seorang teman mengabariku.
Aku termangu. Berpikir.
"Rasanya... aku belum siap ketemu dan bicara sekarang," aku jujur, "Maaf, bisakah sampaikan aku bisa bertemu besok? Pagi?"
"Baik, baik. Aku cariin Bapaknya dulu ya, Wa. Besok, ya, Wa."
Percakapan berakhir. Aku duduk lemas, menarik nafas panjang-panjang. Demi apapun, saat itu aku tak siap menghadapi entah itu tangis atau amukan marah atau pandangan mata orang tua yang terluka.
***
Aku menatap lembaran-lembaran kertas putih yang tersisa. Dua kisah di atas cukup membuatku menahan nafas. Tapi, tidak, keduanya bukan 'satu-satunya' atau harusnya 'dua-duanya'? Jauh, jauh sebelum kejadian itu, ada kisah yang mengawali semuanya.
***
Suatu malam yang mungkin masih penuh bintang, seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun sengaja dipisahkan, dibiarkan belajar sendirian. Mungkin agar tak terganggu dan mengganggu apa yang sedang dibicarakan tiga manusia dewasa di ruang depan sana; seorang pria setengah baya, wanita setengah baya dan perempuan muda. Mereka berdebat, bicara keras, meski sang pria lebih banyak diam. Anak perempuan cuma bisa mendengar lamat-lamat dan sibuk dengan kegiatannya sendiri, hingga bunyi berdebum keras menghentaknya. Dia berlari. Berlari ke ruangan depan. Seketika air matanya bersimbah. Takutkah makna ekspresi itu? Dia menangis keras. Perempuan muda dilihatnya tergugu, terdesak di pintu yang tertutup. Di depannya wanita setengah baya berwajah murka mengangkat tinggi-tinggi gagang sapu di tangannya, sementara pria setengah baya mencoba menahannya.
Anak perempuan menangis keras. Dia berlari memeluk perempuan muda. Titah pria setengah baya membuat mereka mengungsi ke kamar. Menangis. Berpelukan.
Serentetan kata terdengar lamat-lamat. Sebuah janji terucap. Janji yang kelak terus ditagih dan terus jadikannya 'sang bersalah'.
Anak perempuan menangis. Logika kanak-kanaknya tahu apa yang terjadi. Perempuan muda di depannya akan pergi. Pergi dari hadapannya. Pergi dengan sosok laki-laki yang jadi pilihannya. Sungguh laki-laki pilihannya, bahkan dia tak lagi memilih orang tuanya yang sudah merestuinya. Laki-laki pilihan yang membuat orang tuanya terluka karena tak menjadi wali di pernikahannya yang sudah berlangsung sebelum tanggal yang ditetapkan bulan-bulan mendatang.
Anak perempuan menangis. Perasaan kanak-kanaknya terluka. Sama terlukanya seperti wanita setengah baya yang rela jam-jam tidurnya berkurang, membuat kue-kue kampung sejak dini hari, menjadi buruh cuci hingga berhutang ke mana-mana demi menguliahkan sang putri permata hati yang diharapkan jadi tumpuan dan tauladan. Perasaan kanak-kanaknya sungguh terluka, sama terlukanya dengan wanita setengah baya yang murka.
***
Aku menarik nafas panjang-panjang. Menutup lembaran-lembaran putih yang masih kosong selain sederet huruf bertuliskan : pada akhirnya mereka memilih berpisah.
No comments:
Post a Comment