Thursday, April 23, 2015

Apatisnya...

Ada yang masih diurusi orang tua bahkan setelah menikah. Membersihkan pup anak, memandikan, memakaikan baju dan membuatkan susu, tinggal teriak panggil, "Maaaa...", sementara dirinya asyik menekan sederet tombol huruf dan memandang layar ponselnya.

Ada yang berbahagia hidup bersama pasangannya, melupakan orang tua yang bersusah-payah menghidupi diri sendiri dan adik-adiknya. Yang penting terlepas dari jerat kelam kisah keluarganya. Yang penting dia bahagia, tak peduli nestapa di pihak sana.

Ada yang malam-malamnya riuh, mempermasalahkan bayi dalam gendongan yang konon sakit dan menangis menggila. Bayi dari istri ke dua suaminya. Diantarkan sang mertua yang merasa lelah dan marah sang bayi tak dihiraukan suaminya. Menimbulkan gaduh di rumah orang tua tempatnya berteduh.



Ada yang sedang merintis hidup barunya. Kesulitan ekonomi, ketidakcocokan mertua, cekcok pasangan, semua sampai ke telinga orang tua. Terlalu ikut campurkah si orang tua? Atau anak terlalu memanfaatkan kasih orang tua kah? Entah.

Jika menikah malah semakin membebani orang tua, untuk apakah?
Demikian mengawang-ngawang dalam fikirnya sepanjang siang dan malam. Melayang-layang seperti serpih tak larut dalam air yang hilang dengan pengadukan.

Ah, ada yang telah menggenapkan setengah dien dan mengandung buah kecintaannya, tapi senyum yang biasa tampak setiap jumpa tiada. Raut manis, anggun, hangatnya menguap entah ke mana. Hanya muka getir, kaget, tak senang berjumpa binaan yang sekian bulan diterlantarkan setelah akadnya, tanpa kabar tanpa gempar, seperti berita pernikahannya. Lelah kah? Baby blues-kah? Hingga lambaian tangan dan senyum cerah tiga orang tak lebih dari 10 meter darinya itu cukup dibalas dengan lengosan, wajah datar, dan berpindah ruangan tanpa sepatah sapa? Iyakah? Gebu mimpi, motivasi, hasrat dakwah di setiap kalimatnya lunturkah? Dunia baru pernikahan kah? Beda lahan kah?

Ya, ya, ya, sudah sejak lama dia mendengar cerita orang tua-orang tua bahwa pernikahan adalah biduk rumah tangga, dunia baru bagi yang sebelumnya menyandang gelar pemuda. Biduk, sebagai mana artinya, sampan kecil, yang mungkin cuma muat berdua dan meninggalkan orangtua, saudara sedarah, dan keluarga jauh di belakangnya. Dunia baru, sebagai mana artinya, menunjukkan dirimu yang baru, yang terpisah dari tiap tetes usaha dan jengkal mimpi yang digadang-gadang jauh sebelumnya.

Tidakkah menikah berarti menyatukan dua kekuatan? Tidakkah seharusnya semakin sinergi?
Jika menikah berarti total memisahkan diri dari lingkungan, dunia sekitarnya, dunia sebelumnya, maka saya lebih memilih tidak menikah...

Itu lah akhirnya. Itu lah awalnya.

No comments:

Post a Comment